WALISONGO DAN ISLAM DI INDONESIA
WALISONGO DAN ISLAM DI INDONESIA

Wali atau Waliyullah adalah orang orang yang dikasihi Allah. Kata wali mengandung banyak arti. Bisa bermakna 'teman', 'kekasih', atau 'pengikut'. Dalam Al-Qur'an, dijumpai kata auliya Allah yang berarti 'kekasih Allah', 'orang-orang terkasih dan dicintai'. Secara umum, wali/aulia Allah adalah hamba yang sungguh- sungguh mengabdi, menaati Allah dan Rasul-Nya sehingga diistimewakan dan mendapat maqam (kedudukan/derajat) mulia di sisi-Nya'.[1]
Sebelum masuknya Islam ke Pulau Jawa, pada umumnya situasi masyarakat nya cenderung dipengaruhi oleh adanya sistem kasta dalam.agama Hindu atau dikenal dengan perbedaan golongan kelas, sehingga kehidupan masyarakatnya bertingkat-tingkat dan terkotak-kotak. Mereka yang kastanya lebih tinggi tidak boleh bergaul dengan orang yang berkasta lebih rendah dan seterusnya. Masyarakat Hindu ketika itu membagi kastanya menjadi empat (4) kasta yaitu: kasta brahmana, kasta ksatria, kasta waisya, dan kasta sudra. Sebagai kasta yang paling rendah, kasta sudra sering tertindas oleh kasta lainnya, sehingga kehidupannya selalu diliputi keresahan.[2]
Setelah ajaran Islam masuk dan tersebar di tengah-tengah masyarakat, susunan masyarakat berdasarkan kasta ini terkikis perlahan-lahan dan dimulailah suatu kehidupan masyarakat baru tanpa penindasan atas hak asasi manusia yang dilatari oleh perbedaan tersebut. Perubahan ini terjadi diantaranya adalah berkat jasa para muballigh dan para wali.[3]
Sejarah walisongo berkaitan dengan penyebaran dakwah Islamiyah di tanah jawa. Sukses gemilang perjuangan para wali ini tercatat dengan tinta emas. Dengan itu agama Islam kemudian dianut oleh sebagian besar manyarakat jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan, dan pegunungan. Berikut peran walisongo dalam penyebaran Islam.[4]
Pertama, Peranan Perdagangan dalam Proses Penyebaran Islam Islam masuk ke Indonesia dibawa pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia. Adapun kota pelabuhan dagang yang berperan besar dibidang penyebaran agama Islam diabad ke-16 adalah Malaka. Saat para pedagang muslim menunggu perubahannya arah angin untuk menuju tempat tertentu dalam berlayar, mereka memanfaatkan waktu luangnya untuk menyebarkan Islam kepada para pedagang dari daerah lain, termasuk pedagang Indonesia.[5]
Kedua, Peranan Perkawinan dalam Proses Penyebaran Islam Perkawinan juga memegang penting dalam penyebaran agama Islam. Banyak pedagang Arab, Persia dan Gujarat menikah dengan wanita Indonesia, terutama putri bangsawan atau raja. Misalnya Syeh Maulana Ishak menikahi Dewi Sekardadu, putri raja Blambangan yang menurunkan Sunan Giri. Sunan Ampel menikahi Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban, menurunkan Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Dengan cara ini, banyak yang ikut memeluk Islam.[6]
Ketiga, Peranan Pendidikan dalam Proses Penyebaran Islam Proses penyebaran agama Islam melalui pendidikan berupa pendidikan di pondok-pondok pesantren. Para santri yang telah lulus merupakan ujung tombak penyebaran Islam didaerahnya masing-masing.[7]
Pengaruh
Islam ini kuat sekali dimana daerah-daerah pesisir Utara Pulau Jawa sejak abad XI telah memiliki beberapa pemukiman
orang Islam. Kemudian berkembang hingga abad XV-XVI. Dalam hal ini peranan
para wali dalam pengembangan Islam di Pulau Jawa sangat besar
terutama kelompok Walisanga,
sangat memperhatikan peran dan memperlihatkan
ciri-ciri aktivitasnya, misalnya:[8]
a. Para wali tidak memperluas wilayah tetapi menjalankan pengaruh melalui pesantren, misal Sunan Giri telah menerima santri dari wilayah Timur Nusantara seperti Ternate Tidore Hitu.[9]
b. Para wali tidak mengembangkan pengaruh politik dan menyerahkan kekuatan politik pada tangan raja, misal: Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga telah membantu mengembangkan kekuasaan politik kepada Kerajaan Demak (Sunan Ampel, Sunan Bonang) Pajang dan Mataram (Sunan Kalijaga).[10]
c. Wali mengembangkan wilayah dan membuat lembaga kerajaan dan sekaligus mengembangkan agama Islam seperti yang diperankan oleh Sunan Gunung Jati, baik Cirebon maupun di Banten.[11]
Daftar Pustaka
Abdillah F. Hasan, Para Kekasih Allah. Orang-Orang Yang Bahagia Di Dunia Dan Akhirat (Bandung: OASE Mata Air Makna, 2008).
M. Sanggupi Bochari, Wiwi Kuswiyah, and Ohorella G.A., Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2001)
Bochari, Kuswiyah, and G.A.
A.R. Idham Kholid, “Wali Songo: Eksistensi Dan Peranan Dalam Islamisasi Dan Implikasinya Terhadap Munculnya Tradisi-Tradisi Di Tanah Jawa,” Tamaddun 4 (2016).
Hasan Mu‘arif Ambari. P, “Peranan Cirebon Sebagai Pusat Perkembangan Dan Penyebaran Islam,” CV. Defit Prima Karya 1 (1996)
[1] Abdillah F. Hasan, Para Kekasih Allah. Orang-Orang Yang Bahagia Di Dunia Dan Akhirat (Bandung: OASE Mata Air Makna, 2008), h. 89.
[2] M. Sanggupi Bochari, Wiwi Kuswiyah, and Ohorella G.A., Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2001), h. 18.
[3] Bochari, Kuswiyah, and G.A., h. 19.
[4] Retno Ayu Puji Lestari and Resi Arisanti, “Peran Wali Songo Dalam Penyebaran Islam,” UIN Suska Riau 1 (2019): h. 5.
[5] Puji Lestari and Arisanti, h. 6.
[6] Puji Lestari and Arisanti, h. 6.
[7] Puji Lestari and Arisanti, h. 6.
[8] A.R. Idham Kholid, “Wali Songo: Eksistensi Dan Peranan Dalam Islamisasi Dan Implikasinya Terhadap Munculnya Tradisi-Tradisi Di Tanah Jawa,” Tamaddun 4 (2016): h. 5.
[9] Hasan Mu‘arif Ambari. P, “Peranan Cirebon Sebagai Pusat Perkembangan Dan Penyebaran Islam,” CV. Defit Prima Karya 1 (1996): h. 38.
[10] Ambari. P, h. 38.
[11] Ambari. P, h. 38.
Komentar
Posting Komentar