ISLAM DI INDONESIA: ZAMAN MODERN DAN KONTEMPORER
ISLAM DI INDONESIA: ZAMAN MODERN DAN KONTEMPORER
Pemikiran Islam modern, yang difokuskan pada karya Deliar Noer dalam gerakan modern Islam di Indonesia antara tahun 1900 hingga 1942. Sejarah tumbuhnya gerakan modernis di Indonesia tidak lepas dari pengaruh pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho. Alasan tersebut diperkuat dengan kenyataan bahwa banyak pemuda Indonesia saat itu terpengaruh oleh pemikiran kedua tokoh tersebut dan menurut beberapa kalangan intelektual, ibadah keagamaan sering muncul karena kondisi sosial pada masa itu. , ternyata banyak perbedaannya. Untuk rombongan mengajak masyarakat untuk kembali kepada inti ajaran yaitu Al Quran dan Al Hadits.
Selain akar pertumbuhan gerakan Islam modern di atas, dijelaskan pula dalam buku Deliar, mengenai pandangan golongan gerakan Islam modern terhadap tradisi yang berlaku saat itu, yaitu menurut Deliar bahwa golongan pembaharu lebih memberi perhatian pada sifat Islam pada umumnya. Bagi mereka Islam sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan. Islam juga berarti kemajuan, agama itu tidak akan menghambat usaha mencari ilmu pengetahuan, perkembangan sains dan kedudukan wanita. Islam ialah agama universal, yang dasar-dasar ajarannya telah diungkapkan oleh para nabi, baik yang dikenal maupun yang tidak, yang diutus kepada semua bangsa; tugas mereka diselesaikan oleh Muhammad, Rasul utusan terakhir untuk seluruh umat manusia.[1]
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk kemerdekaan tidak dapat dipisahkan dari umat Islam. Umat Islam bersatu dan berjuang melawan penjajah yang merebut kedaulatan rakyat Indonesia. Mereka menjadi garda depan melawan kolonialisme dalam perjuangan kemerdekaan. Karena itu, para penjajah lebih berhati-hati terhadap umat Islam, khususnya Jawa. Perlawanan dimulai dari kerajaan-kerajaan Islam kemudian melalui ulama memimpin rakyat dan gerakan sosial di masing-masing daerah, membangkitkan kesadaran di kalangan rakyat untuk terlibat dalam perjuangan melawan penjajahan dan mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia.[2]
Secara fisik umat Islam dengan Laskar Hisbullah-Sabilillah, kemudian diteruskan Asykar Perang Sabil (APS) dan laskar Islam lainnya di daerah, membantu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) untuk mempertahankan NKRI dengan perang gerilya melawan sekutu-NICA (Netherland Indie Civil Administration, Belanda) yang akan kembali berkuasa di Indonesia. Secara fisik pula Laskar Hisbullah-Sabilillah yang kemudian diteruskan oleh markas ulama APS bersama pasukan TNI dari Siliwangi melawan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 18 september 1948 (dipimpin oleh Muso dan Amir Syarifuddin), yang akan menghancurkan NKRI dan akan membentuk pemerintahan komunis Indonesia, menjadi bagian atau satelit dari commitern komunis internasional yang berpusat di Moskow, Rusia. Pemberontakan PKI 1948 ini berjalan secara biadab, membantai para ulama dan santri, membantai kaum nasionalis, membantai pamong praja. Dapat digambarkan ada suatu gedung untuk pembantaian yang darahnya menggenang sampai satu kilan. Dengan adanya kerjasama antara kelaskaran umat Islam, kelaskaran kaum nasionalis, dengan TNI berhasil menghancurkan kekejaman dan kebiadaban pemberontakan PKI 1948.[3]
Memasuki era Reformasi, Indonesia dilanda redemokratisasi. Suatu perubahan sistem politik dari sistem otoritarianisme menuju sistem demokrasi yang terbuka dan memberikan kebebasan kepada warga negara. Susana pada pemilu pertama tahun 1955 kembali terulang dengan bermumculannya beberapa partai politik baru termasuk partai berbasis Islam. Pada era Reformasi ini keinginan partai Islam menjadi pemenang pemilu belum juga terlaksana. Alih-alih mencapainya, partai Islam dan berbasis massa Islam cenderung mejadi partai “papan tengah”. Dengan kondisi tersebut sulit rasanya partai Islam dan berbasis massa Islam untuk berperan signifikan dalam proses dinamika politik di parlemen.[4]
Keberadaaan organisasi Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peranannya pada zaman perjuangan kemerdekaan salah satunya adalah peranan para ulama Islam.Berikut ini adalah beberapa organisasi besar Islam di Indonesia yang dibentuk pada masa perjuangan kemerdekaan hingga sekarang.
1. Nadlatul Ulama
Nahdlatul Ulama didirikan oleh Kiai Hasyim Asy-ari pada 31 Januari 1926 di Kota Surabaya. NU dianggap "tradisionalis" karena mentoleransi budaya lokal selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. NU bertentangan dengan kebijakan modernis Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis), dan munculnya gerakan Salafi dari organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Indonesia yang sama sekali menolak adat istiadat setempat yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu dan Budha Jawa pra-Islam.[5]
Pada tahun 1928, NU menggunakan bahasa Jawa dalam khotbahnya, di samping bahasa Arab. Nahdlatul Ulama mengikuti mazhab Asy'ariyah, mengambil jalan tengah antara kecenderungan aqli (rasionalis) dan naqli (skripturalis). Organisasi tersebut mengidentifikasi Al-Qur'an, Sunnah, dan kemampuan akal ditambah dengan realitas empiris sebagai sumber pemikirannya. NU mengaitkan pendekatan ini dengan para pemikir sebelumnya, seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi di bidang teologi.[6]
2. Persatuan islam
Persatuan Islam (Persis) berdiri pada tanggal 12 September 1923 melalui inisiatif sekelompok pedagang di Kota Bandung yang tertarik mendalami ajaran agama Islam dan mempraktekannya dengan baik. Awal terbentuk dipimpin oleh dua orang asal kota Palembang yang telah lama berdomisili di Bandung, yakni Haji Muhammad Zamzam, dan Haji Muhammad Yunus. Persis bertujuan untuk memberi pemahaman agama islam yang komprehensif sesuai dengan ajaran Rasulullah. Persis tidak ingin pemahaman Islam yang dianut masyarakat tercampur dengan budaya lokal, sehingga akan muncul taklid buta. Penamaan kelompok ini dengan “Persatuan Islam” merujuk pada empat asas filosofi persatuan pentingnya rûh al-ijtihâddan jihad yaitupersatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan usaha Islam, dan persatuan suara Islam berdasarkan QS Ali Imran ayat 103 “Kekuatan Allah itu beserta jamaah”. QS Ali Imran ayat 103 inilah yang menjadi motto Persis.[7]
Daftar Pustaka
Ajirah. “Peran Umat Islam Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia,” Desember 2020.
Eliwatis, Iswantir, Romi Moemori, and Susi Herawati. “PERAN PERSATUAN ISLAM (PERSIS) DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKANISLAMDI INDONESIA” 11 (2022): 2.
Gusti Tahir. “MUHAMMADIYAH (Gerakan Sosial Keagamaan Dan Pendidikan).” Jurnal Adabiyyah 10 (2010): 2.
Harun Ma’arif Teguh Saputra. “Peranan Islam Dalam Kemerdekaan Republik Indonesia,” November 26, 2021.
M. Fadholi. “PEMIKIRAN ISLAM MODERN; Studi Terhadap Karya Deliar Noer ‘Gerakan Modern Islam Di Indonesia (1900-1942).’” DIDAKTIKA ISLAMIKA 11 (2020): 2.
Muhammad Husni Tamami. “3 Organisasi Islam Terbesar Indonesia Dan Peranan Para Ulama Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan,” desember 2022.
Ruslan Ismail3. “Peta Kekuatan Partai Islam Dalam Era Pemerintahan Di Indonesia.” Jurnal Populis, 2018, 6.
[1] M. Fadholi, “PEMIKIRAN ISLAM MODERN; Studi Terhadap Karya Deliar Noer ‘Gerakan Modern Islam Di Indonesia (1900-1942),’” DIDAKTIKA ISLAMIKA 11 (2020): 2.
[2] Harun Ma’arif Teguh Saputra, “Peranan Islam Dalam Kemerdekaan Republik Indonesia,” November 26, 2021.
[3] Ajirah, “Peran Umat Islam Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia,” Desember 2020, 1.
[4] Ruslan Ismail3, “Peta Kekuatan Partai Islam Dalam Era Pemerintahan Di Indonesia,” Jurnal Populis, 2018, 6.
[5] Gusti Tahir, “MUHAMMADIYAH (Gerakan Sosial Keagamaan Dan Pendidikan),” Jurnal Adabiyyah 10 (2010): 2.
[6] Muhammad Husni Tamami, “3 Organisasi Islam Terbesar Indonesia Dan Peranan Para Ulama Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan,” desember 2022.
[7] eliwatis et al., “PERAN PERSATUAN ISLAM (PERSIS) DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKANISLAMDI INDONESIA” 11 (2022): 2.
Komentar
Posting Komentar