ISLAM DI INDONESIA MASA MODERN DAN KONTEMPORER
ISLAM DI INDONESIA MASA MODERN DAN KONTEMPORER
Islam datang dan berkembang di Indonesia lebih dari lima abad, pemahaman dan penghayatan keagamaan masih cenderung sinkretik; tarik-menarik antara nilai-nilai luhur Islam dengan budaya lokal. keberagaman tidak sepenuhnya dapat lepas dari pengaruh sinkretik yang diwariskan oleh para pendahulu. Secara kelembagaan, Muhammadiyah dan Persis berusaha melakukan pembaruan dengan melepaskan umat dari pengaruh-pengaruh non-Islam. Akan tetapi, gerakan ini mendapat tentangan dari kalangan nadliyin (NU) yang cenderung mentholelir dan melestarikan kebiasaan-kebiasaan tersebut.[1]
Pembaharuan
pada masa modern tidak hanya berkutat pada persoalan keagamaan. Namun telah
masuk pada spektrum yang lebih luas. Jika gerakan pembaharuan pada priode pra
modern lebih menitik beratkan pada usaha purifikasi dan gerakan ijtihad itu
dikarenakan kaum muslimin secara bertahap dianggap telah meninggalkan jalan
yang telah ditetapkan oleh al-Qur'an dan as- Sunnah. Sehingga para pembaharu
dianggap perlu kehadirannya untuk mengusahakan kelahiran kembali semangat Islam
yang asasi.[2]
Gerakan keislaman atau kebangkitan Islam dimulai sejak Islam bersentuhan dengan Barat melalui kolonialisasi dan imperialisasi wilayah kekuasaan Islam dan ini merupakan awal dari abad modern di dunia Islam, atau dalam pandangan merupakan masa kebangkitan Islam. Islam dihadapkan dengan kondisi zaman yang begitu progresif, berada di luar bayangan umat Islam sebelumnya, Barat datang dengan seperangkat temuan-temuan canggih dalam bentuk sains dan teknologi, sistem sosial yang begitu apik, semuanya merupakan cermin atau ciri dari modernisme yang berkembang di Barat.[3]
Berawal dari gerakan modern Islam yang merupakan jawaban yang ditujukan terhadap krisis yang dihadapi oleh umat Islam pada masanya. Gerakan modern ini bertitik tolak dari kemunculan gerakan Wahabi yang reformis dan puritanis di Saudi Arabia. Gerakan modern ini merupakan sarana yang menyiapkan jembatan ke arah Pembaharuan Islam abad kontemporer yang bersifat intelektual dan Global. Lalu gerakan ini terkristal oleh Jamaluddin al-Afghani (w. 1897) yang menyuarakan solidaritas pan-Islam dan pertahanan terhadap inperialisme Eropa. Pan-Islam adalah persatuan umat Islam seluruh dunia dengan kembali kepada Islam dalam suasana kontemporer.[4]
Gerakan yang lahir di Timur Tengah ini memberikan pengaruh besar kepada kebangkitan Islam era kontemporer di Indonesia. Bermula dari pembaharuan pemikiran dan pendidikan Islam di Minangkabau yang disusul oleh pembaharuan di bidang pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Arab di Indonesia. yaitu, seperti di Jakarta mendirikan Jamiat Khair. Cara yang dilakukan adalah mendatangkan guru dari Timur Tengah yang bisa memberikan pembelajaran tentang Islam di Indonesia seperti, Syeikh Al-Hasyimi dari Tunisia, Syeikh Ahmad surkati dari Sudan, Syeikh Muhammad Thaib dari Maroko dll.[5]
Indonesia merupakan negara muslim terbesar, teatapi masyarakatnya tidak memiliki pandangan yang sama dalam memperjuangan agama Islam. Begitu pula dengan partai-partai Islam. Mereka memiliki visi yang berbeda-beda, sehingga strategi yang dijalankan juga berbeda-beda. Sehubungan dengan itu, dari sejumlah partai Islam terbuka. Partai Islam tertutup ialah partai yang berasaskan Islam, yaitu Partai Persatuan Pembanagunan (PPP), Partai Keadilan Sejahteran (PKS), dan partai kebangkitan umat (PKU), sementara itu, partai Islam terbuka ialah partai yang berasaskan Pancasila, tetapi tetap mempertahankan konsituen Islam, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Tidak hanya itu, isu-isu terorisme mewarnai umat Islam, seperti isu terorisme yang ditujukan kepada K.H. Abu Bakar Ba'asyir, pengasuh Pondok Pesantren Al- Mu'min, Ngruki, dan jamaah Islamiyah nya.[6]
Meskipun begitu, pada masa ini dakwah tetap berjalan dan mulai merambah dunia hiburan. Hal ini terlihat dari maraknyan sinetron dan novel Islami. Pada da'i, seperti K.H. Hasyim Muzadi, Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Dr. Din Syamsuddin, dan K.H. Abdullah Gymnastiar; yang kerap kali mereka muncul di berbagai media. Di samping itu, pada masa ini muncul bank dan asuransi yang berlabelkan syariah.[7]
Agama dan budaya merupakan dua hal yang ada dan berfungsi dalam masyarakat. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang agama dan budaya, realisasi fungsi tersebut tidak hanya terlihat dalam bentuk sistem budaya dan adat istiadat, tetapi juga tampak dalam ritual keagamaan. Fenomena hubungan agama dan budaya dalam masyarakat berbeda-beda sifat hubungannya. Fenomena hubungan ini sangat tergantung pada keadaan masyarakat itu sendiri. Misalnya, jika agama diasosiasikan dengan budaya masyarakat pedesaan, maka pola hubungannya dengan masyarakat perkotaan berbeda. Padahal, bukan hanya fenomena kedaerahan yang menentukan, tapi juga etnis.[8]
Dalam konteks islam Nusantara, lembaga pendidikan keagamaan surau dan pesantren secara sosio-historis adalah tempat lahir dan berkembangnya banyak ulama kharismatik yang mampu menciptakan suasana tenang, damai dan juga dinamis dengan menekankan pentingnya integrasi atau kohesi sosial, islam dapat bergumul dengan budaya-budaya yang ada di nusantara. islam sebagai agama yang hadir di seluruh suku bangsa yang ada, sebagai sistem nilai yang menyatu dengan budaya setempat. Sehingga hal ini yang sering dilihat oleh orang diluar suku tersebut dengan contoh islam Minangkabau, islam Jawa, dan seterusnya. Akumulasi kebudayaan yang menyetubuh dengan berbagai kultur ini kemudian sering menjadi konflik laten bahkan menjadi konflik manifest di tengah kehidupan umat beragama.[9]
[1] Fuad Masykur, “SEJARAH DAN DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA DARI MASA KLASIK HINGGA MODERN (AKHIR ABAD KE XIX-AWAL ABAD KE XX),” Tarbawi 5, no. 1 (Februari 2022).
[2] Fuad Masykur, hal. 8.
[3] Saiul Anah, “MASYARAKAT ISLAM INDONESIA PADA ABAD MODERN DAN KONTEMPORER,” Jurnal Keislaman 4, no. 2 (September): hlm. 190.
[4] Muhammad Rusydy, “Transformasi Pemikiran dan Gerakan Islam Indonesia Kontemporer,” Tajdid XVI, no. 1 (Juli 2017): hlm. 37.
[5] Inggria Kharisma, “ISLAM DAN DAKWAH DI INDONESIA PADA MASA KONTEMPORER,” IAIN Bukittinggi 24, no. 1 (Juni 2020): hlm. 58.
[6] Inggria Kharisma, “ISLAM DAN DAKWAH DI INDONESIA PADA MASA KONTEMPORER,” hlm. 63.
[7] Inggria Kharisma, hlm. 64.
[8] Riyan Haqi Khoerul Anwar, Andri Nurjaman, dan Muhammad Yusuf, “DINAMIKA BUDAYA DAN AGAMA {STUDI ANALISIS ATAS PENCARIAN NILAI NILAI ISLAM DALAM KEBIJAKAN” Vol. 7 No. 2 (t.t.).
[9] Ahmad Mukhlishin, Muhammad Jamil, dan Aprezo Pardodi Maba, “ASIMILASI ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL DI NUSANTARA” Vol.18 No. 1 (Juni 2018).
Komentar
Posting Komentar