ISLAM DI ASIA TENGGARA

 

ISLAM DI ASIA TENGGARAIndonesia.go.id - Wajah “Damai” Islam Asia Tenggara

Dalam proses masuknya Islam di Asia Tenggara, digunakan beberapa jalur, jalur ini semuanya disesuaikan dengan budaya timur yang mengedepankan keramahan, sehingga memudahkan masuk dan berkembangnya Islam di daerah ini.  Dengan ini, Uka Tjandra Sasmita mengatakan ada enam jalur masuk Islam Asia Tenggara sedang berkembang, yaitu:

a.     Jalur Perdagangan

          Wilayah maritim Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka, telah ada sejak abad ke-1 posisi yang sangat penting dalam perdagangan dan pelayaran internasional Karena posisinya menghubungkan negara-negara Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia barat kesibukan lalu lintas Perdagangan di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke- 16.[1]

b.      Jalur Perkawinan

     Dari segi ekonomi, pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada penduduk pribumi, putri-putri bangsawan tertarik menjadi istir para saudagar. Sebelum menikah, calon istri saudagar diislamkan terlebih dahulu, setelah mereka memiliki keturunan, lingkungan mereka berkembang, terbentuklah desa-desa, daerah, dan juga kerajaan Islam.[2]

c.     Jalur Tasawuf

Menurut sejarawan Australia H. John, proses Islamisasi di Asia Tenggara dipengaruhi oleh ajaran tasawuf serta dakwah cerdas para sufi yang datang bersama para pedagang muslim.[3]

d.     Jalur Pendidikan

Islamisasi juga dilakukan oleh para ustadz, kiai dan ulama melalui jalur pendidikan di sekolah dan pesantren. Di pesantren atau pondok pesantren, calon guru, calon kiai atau ulama menerima pelajaran agama, mereka kembali ke desa mereka untuk berdakwah dan mengajarkan Islam. Misalnya: pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat Ampel di Surabaya dan Sunan Giri di Giri. keluaran pesantren ini banyak yang diundang ke Maluku untuk berdakwah.[4]

e.     Jalur Kesenian

Bentuk Islamisasi yang paling terkenal melalui seni adalah pertunjukan wayang. sunan Kalijaga adalah tokoh pewayangan paling piawai yang tidak pernah meminta bayaran pertunjukan tetapi meminta penonton untuk mengikutinya mengucapkan syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih diambil dari cerita Mahabharata dan Ramayana, namun cerita tersebut diselingi dengan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian lain juga bisa dijadikan alat Islamisasi. Seperti seni ukir, bangunan, sastra.[5]

f.    Jalur Politik

          Sebagian besar penududuk masuk Islam setelah raja mereka memeluk Islam. Pengaruh politik raja memberikan kontribusi yang besar terhadap penyebaran Islam di suatu wilayah. Kemenangan kerajaan-kerajaan Islam secara politis dapat menrik penduduk kerajaan non Muslim untuk masuk Islam.[6]

    Kedatangan Islam di Asia Tenggara sejak abad pertama, di wilayah Maritim Asia Tenggara khususnya Selat Malaka sudah memiliki posisi yang sangat penting dalam perdagangan internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai ke Cina, sesuai dengan kemunculan dan perkembangan kekuatan besar, yaitu dinasti Tang Cina (618-907 M), kerajaan Sriwijaya (abad 7-14) dan Dinasti Umayyah (660-749 M). (peradaban islam di asia tenggara 7) Merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan bahwa masyarakat Islam berkembang di Asia Tenggara ratusan tahun yang lalu. [7]

Warna Islam Asia Tenggara sangat berbeda dengan warna Islam Timur Tengah sebagai kawasan tempat lahirnya Islam. Seorang sarjana Barat bernama Bruce Vaughn beranggapan bahwa Islam Asia Tenggara terlihat memiliki karakteristik lebih moderat dibandingkan dengan Islam Timur Tengah. Menurutnya, hal ini bisa saja disebabkan karena Islam datang di wilayah ini melalui jalur perdagangan, bukan melalui jalur militer sebagaimana yang banyak terjadi di Asia Selatan dan Timur Tengah.[8]

Penyebaran Islam di Asia Tenggara tak terlepas dari interaksi antar masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab dan India. Di abad ke-5 kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedangan Cina atau sebaliknya. Dengan munculnya kerajaan thalassocratic Sriwijaya di abad ke-7 dan kemampuan kerajaan ini untuk menjamin keamanan pelayaran Selat Malaka membuat pelayaran dan jalur perdagangan internasional di wilayah ini kemudian menjadi lebih penting.[9]

Kesultanan Islam yang berdiri di hampir sebagian wilayah Asia Tenggara turut memberikan dukungan terhadap kemajuan Islam, terutama di Semenanjung Malaka dan Kepulauan Nusantara, yang diawali dengan berdirinya Samudra Pasai sebagai kesultanan Islam pertama di nusantara, disusul Aceh, Demak, Malaka, Johor, Patani, Bolkiah, Sulu, dan masih banyak lagi, sementara di wilayah Semenanjung Indo-Cina terdapat satu kerajaan yang berkontribusi atas pertumbuhan Islam, yakni Kerajaan Campa, yang pergerakannya meliputi tiga negara Indo-Cina, di antaranya Vietnam, Laos, dan Kamboja.[10]

    Proses konversi Islam dikalangan pribumi Asia tenggara baru terjadi pada masa berikutnya, seperti dikemukakan Azyumardi Azra : Mungkin benar bahwa Islam sudah diperkenalkan ked an ada di Nusantara pada abad-abad pertama Hijriah, sebagaimana dikemukakan Arnold dan dipengagi banyak sarjana IndonesiaMalaysia, tetapi hanyalah setelah abad ke-12pengaruh islam keliatan lebih nyata. Karena itu proses Islamisasi nampaknya mengalami akselerasi antara abad ke-12 dan ke-16.[11]

 

Daftar Pustaka

Watik Dwi Astuti, “Peradaban Islam di Asia Tenggara,” STAI NIDA EL ADABI, 2022

M. Dahlan. M, “Dinamika Perkembangan Islam Di Asia Tenggara Perspektif Histori,” Jurnal Adabiyah 13 (2013): 115.

  Bahrul Hayat, “Kontribusi Islam Terhadap Masa Depan Peradaban Di Asia Tenggar,” Miqot, 36, 1, (Juni, 2012).

Rahmawati, “Islam di Asia Tenggara”,, Jurnal Rihla , 2, 1, (2014).

Mochammad Nginwanun Likullil Mahamid, “Islam Dalam Bingkai Sejarah Asia Tenggara: Perspektif Saifullah Dalam Buku Ski Di Asia Tenggara,” Jurnal Kajian, Penelitian & Pengembangan Pendidikan Sejarah, 7, 1, (Juni, 2022).

    Azyumari Azra, “Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII Dan XVIII,” Kencana, T.T.

 



[1] Watik Dwi Astuti, “Peradaban Islam di Asia Tenggara,” STAI NIDA EL ADABI, 2022, 4.

[2] Watik Dwi Astuti, 5.

[3] Watik Dwi Astuti, 5.

[4] Watik Dwi Astuti, 6.

[5] Watik Dwi Astuti, 6.

[6] Watik Dwi Astuti, 6.

   [7] M. Dahlan. M, “Dinamika Perkembangan Islam Di Asia Tenggara Perspektif Histori,” Jurnal Adabiyah 13 (2013): 115.

[8] Bahrul Hayat, “Kontribusi Islam Terhadap Masa Depan Peradaban Di Asia Tenggar,” Miqot, 36, 1, (Juni, 2012),H. 193

   [9] Rahmawati, “Islam di Asia Tenggara”,, Jurnal Rihla , 2, 1, (2014), h. 110.

[10] Mochammad Nginwanun Likullil Mahamid, “Islam Dalam Bingkai Sejarah Asia Tenggara: Perspektif Saifullah Dalam Buku Ski Di Asia Tenggara,” Jurnal Kajian, Penelitian & Pengembangan Pendidikan Sejarah, 7, 1, (Juni, 2022).

    [11] Azyumari Azra, “Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII Dan XVIII,” Kencana, T.T., 31.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISLAM DI INDONESIA MASA MODERN DAN KONTEMPORER