TURKI USMANI

 

TURKI USMANI

 


Peradaban Islam di Turki merupakan warisan atas pengaruh peradaban Islam Arab dan Persia yang menajdikan warisan mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan dinasti Utsmani. Pencipta Allah, melainkan juga mengatur sistem kehidupan sosial dan bernegara. Kerajaan Turki didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Qayigh Oghus yang merupakan anak suku Tukrey yang mendiamai Gurun Gobi sebelah barat. Memasuki tahun pertama masehi, pada masa itu wilayah Turki bernama Kerajaan Bizantium dikuasai oleh bangsa Romawi selama 4 abad. Ibukota kerajaan pada masa ini dipindahkan dari Roma ke Konstatinopel.  Kerajaan Turki Utsmani pada awal nya hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, dengan adanya dukungan militer, maka pada masa kemajuannya tidak berapa lama memiliki kerajaan yang besar.[1]

Setelah Usman memproklamirkan pemerintahannya, daerah kekuasaannya terus berkembang. Usman dikenal sebagai penguasa yang adil dan bijaksana, yang menyebabkan banyaknya ulama dan pemuka kaum bani Saljuk menyatakan setia dan meminta perlindungan kepadanya. Anatolia. la terus melakukan perluasan wilayah kedaerah Byzantium, sebelum meninggal kota Brusa sudah berhasil didudukinya.[2]

Setelah meningggal diusia 70 tahun (1326), pimpinan pemerintahan digantikan oleh putranya yang bernama Urkhan I, yang memerintah selama lebih kurang 31 tahun (1326-1357 M). Pada masa Urkhan I ini, pemerintahan pusatnya dipindahkan ke kota Brusa. . Korp militer yang baru ia bentuk dengan nama Jenissari (Inkisyariyah), yang berarti kekuatan baru (New Force). Ia juga membentuk jabatan kementerian dan menunjuk saudaranya, Alauddin Pasya sebagai perdana menteri yang pertama dalam kerajaan Usmani. la juga mengadakan perluasan wilayah kekuasaan. Serangan-serangan yang dilakukannya sampai kebagian utara Eropa. Benteng Tzimpe dan Gallipolia dapat jatuh kedalam kekuasaannya.[3]

Ahli sejarah menyatakan bahwa masa kerajaan Khalifah Sulaiman al-Qanuni merupakan kejayaan dan kebesaran Kerajaan Turki Utsmani, hal ini dibuktikan bahwa pada masa  kerajaan Turki Utmani masa Kesultanan Sulaiman Al Qanuni kerajaan telah meninggalkan jauh negara-negara eropa pada bidang militer, politik, dan keilmuan.[4]

Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Turki usmani yang demikina luas dan berlangsung secara cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan lain dalam bidang-bidang kehidupan yang lain. Yang terpenting diantaranya ialah:[5]

a.   Kemiliteran dan Pemerintahan

Para pemimpin kerajaan turki utsmani pada masa-masa pertama, adalah orangorang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas.

b.             b.   Ilmu Pengetahuan dan Budaya.

Kebudayaan turki usmani juga merupakan perpaduan bermacam-macam Kebudayaan.

c.             c. Bidang Keagamaan

Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunya peranan besar dalam lapangan Sosial dan politik. [6]

 

Asal usul berdirinya kerajaan safawi pada awalnya hanya merupakan gerakan atau aliran tarekat yang didirikan oleh shafi al-Din al-Ardabily (1252-1334 M) di ardabil azerbaijan. Shafi al-Din dikenal sebagai murid yang taat dari seorang mursyid yang bernama syekh Taj al-In Ibrahim Zahidi (1218-1301 M) di kota jilan dekat laut Kaspia, yang kemudian ia dijadikan menantu oleh gurunya dan ditunjuk menjadi penerus untuk memimpin tarekat zahidiyah. Pada saat syekh shafi al-Din meninggal, kedudukannya digantikan oleh putranya yaitu sadr al-Din Musa (1334-1399 M) dan dilanjutkan kembali oleh putranya bernama Khawaja Ali (1339-1427 M). Kemudian kepemimpinan tarekat dilanjutkan oleh putra dari Khawaja Ali yaitu Ibrahim sampai pada tahun 1447 M.[7]

Perjalanan Tarekat Safawiyah menuju terbentuknya Kerajaan Safawi dapat dibedakan menjadi dua fase, yakni:[8] Fase pertama, tarekat Safawiyah mempunyai dua corak, corak sunni pada masa pimpinan Safi al Din (1301-1334 M) dan masa Sadr al-Din (1334-1399 M). Fase kedua, tarekat Syafawiyah berubah menjadi gerakan politik, yaitu masa Junaid Ibn Ibrahim (1447 – 1460 M) yang ingin membentuk pemerintahan sendiri. [9]

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Achiriah, and Laila Rohani. Sejarah Peradaban Islam. Medan: Perdana Publishing, 2018.

Desky, Harjony. “Kerajaan  Safawi Di Persia Dan Mughal Di India Asal Usul, Kemajuan Dan Kehancuran.” Jurnal Tasamuh, 1, 8 (2016).

Fuad, Zakki. Sejarah Peradaban Islam. Surabaya: UIN Surabaya Press, 2016.

Syamruddin Nasution. Sejarah Peradaban Islam. Riau: Yayasan Pustaka Riau, 2013.

Ulyah, Taqwatul. “Kepemimpinan Kerajaan Turki Usmani: Kemajuan Dan Kemundurannya.” Jurnal An-Nur, 2, 7 (2021).

Yamani, Sudin, Indo Santalia, and Wahyudi G. “Sejarah Perkembangan Dan Kemunduran Tiga Kerajaan Islam Abad Modern Tahun 1700-1800.” Jurnal Kewarganegaraan, 2, 6 (2022).

 

 



[1] Taqwatul Ulyah, “Kepemimpinan Kerajaan Turki Usmani: Kemajuan Dan Kemundurannya,” Jurnal An-Nur, 2, 7 (2021): h.327-328.

[2] Achiriah and Laila Rohani, Sejarah Peradaban Islam (Medan: Perdana Publishing, 2018), h.65.

[3] Achiriah dan Laila Rohani, Sejarah Peradaban Islam (Medan: Perdana Publishing, 2018), h.66

[4] Ulyah, “Kepemimpinan Kerajaan Turki Usmani: Kemajuan Dan Kemundurannya,” h.328-329.

[5] Sudin Yamani, Indo Santalia, and Wahyudi G., “Sejarah Perkembangan Dan Kemunduran Tiga Kerajaan Islam Abad Modern Tahun 1700-1800,” Jurnal Kewarganegaraan, 2, 6 (2022): h.4040-4041.

[6] Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam (Riau: Yayasan Pustaka Riau, 2013), h.298.

[7] Harjony Desky, “Kerajaan  Safawi Di Persia Dan Mughal Di India Asal Usul, Kemajuan Dan Kehancuran,” Jurnal Tasamuh, 1, 8 (2016): h.3.

[8] Zakki Fuad, Sejarah Peradaban Islam (Surabaya: UIN Surabaya Press, 2016), h.157.

[9]  Fuad, h.157.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISLAM DI INDONESIA MASA MODERN DAN KONTEMPORER