DINASTI ABBASIYAH

DINASTI ABBASIYAH

    

Di antara yang mempengaruhi berdirinya khilafah bani Abbasiyah adalah adanya beberapa kelompok umat yang sudah tidak mendukung lagi terhadap kekuasaan imperium bani Umayah yang notabenenya korupsi, sekuler dan memihak sebagian kelompok diantaranya adalah kelompok Syiah dan Khawarij serta kaum Mawali (orang-orang yang baru masuk islam yang mayoritas dari Persi).[1]

Kota Baghdad didirikan oleh Khalifah Abbasiyah kedua, al-Manshur (754-775 M)  pada tahun 762 M. setelah mencari-cari daerah yang strategis untuk ibu kotanya, pilihan  jatuh pada daerah yang sekarang dinamakan Baghdad, terletak di pinggir sungai Tigris. Al-Mansur sangat cermat dan teliti dalam masalah lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi. Bahkan,  ada beberapa orang di antara mereka yang diperintahkan tinggal beberapa hari di  tempat itu pada setiap musim yang berbeda, kemudian para ahli tersebut melaporkan  kepadanya tentang keadaan udara, tanah dan lingkungan.[2]

Seperti yang ditemukan dalam periodisasi Khalifah Abbasiyah, unsur-unsur penyebab stagnasi (kemunduran) tidak muncul secara tiba-tiba. Benihnya pada saat itu tampak jelas pada periode sebelumnya, karena pemimpin pada periode ini sangat tangguh, sehingga benih-benih teresebut tidak memiliki kesempatan untuk berkreasi (berkembang). Dalam sejarah kedaulatan Bani Abbas tampak jika penguasa & para menteri kuat mereka condong akan berperan sebagai kepala Pegawai Sipil, sebaliknya jika pemimpin lemah, mereka akan berkuasa mengendalikan roda pemerintahan. Hal yang mendasari runtuhnya kekuasaan Abbasiyah pada fase disintegrasi yakni lemah dan tidak berdayanya Khalifah yang dipilih, sehingga tidak mampu mengentrol wilayah yang dimpimpinya, dan berdampak munculnya perselisihan dalam lingkup politik.[3]

Pembagian kelas dalam masyarakat Daulat Abbasiyah tidak lagi berdasarkan ras atau
kesukaan, melainkan berdasarkan jabatan, menurut jarzid Zaidan, masyarakat Abbasiyah
terbagi dalam 2 kelompok besar, kelas khusus dan kelas umum. Kelas khusus terdiri dari
khalifah, keluarga khalifah (Bani Hasyim) para pembesar negara (Menteri, gubernur dan
panglima), Kaum bangsawan non Bani Hasyim (Quraisy) pada umumnya. Dan para
petugas khusus, tentara dan pembantu Istana. Sedangkan kelas umum terdiri dari para
seniman, ulama, pujangga fukoha, saudagar dan penguasa buruh dan petani.[4]

Kekuasaan bani Abassiyah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang
berkisar tahun 132 H sampai 656 H (750 M-1258 M) yang dibagi menjadi 5 periode :
1. Periode pertama (132 H/750 M- 232 H/847 M). Di sebut periode pengaruh Persia
pertama.
2. Periode kedua (232 H/847 M- 334 H/945 M). Di sebut masa pengaruh Turki
pertama.
3. Periode ke tiga (334 H/ 945 M – 447 H/1055 M). Masa kekuasaan dinasti Buwaih
atau pengaruh Persia kedua.
4. Periode ke empat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M). Merupakan kekuasaan dinasti
bani Saljuk dalam pemerintahan atau pengaruh Turki dua.
5. Periode ke lima (590 H/1194 M – 565 H/1258 M). Merupakan masa mendekati
kemunduran dalam sejarah peradaban islam.[5]

 

Daftar Pustaka

Aminullah, A. Najili. “Dinasti Bani Abassiyah, Politik, Peradaban Dan Intelektual” 3 (2016).

Fathiha, Nuril. “Peradaban Islam Masa Dinasti Abbasiyah (Periode Kemunduran).” Jurnal Pendidikan Dan Sejarah 7 (March 2021).

Nunzairina. “Dinasti Abbasiyah: Kemajuan Peradaban Islam, Pendidikan Dan Kebangkitan Kaum Intelektual.” JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) 3 (2020).

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. 1st ed. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008.

 

 

 



[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 1st ed. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), h. 49.

[2] Nunzairina, “Dinasti Abbasiyah: Kemajuan Peradaban Islam, Pendidikan Dan Kebangkitan Kaum Intelektual,” JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) 3 (2020): h. 96.

[3] Nuril Fathiha, “Peradaban Islam Masa Dinasti Abbasiyah (Periode Kemunduran),” Jurnal Pendidikan Dan Sejarah 7 (March 2021): h. 2.

[4] A. Najili Aminullah, “Dinasti Bani Abassiyah, Politik, Peradaban Dan Intelektual” 3 (2016): h. 19.

[5] Aminullah, h. 20.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISLAM DI INDONESIA MASA MODERN DAN KONTEMPORER