PERADABAN ISLAM HINGGA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
PERADABAN ISLAM HINGGA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk ras atau rumput bangsa Kaukasoid, dalam subras Medditerranean yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabia, dan Irania. Bangsa Arab hidupnya berpindah-pindah, nomad, karena tanahnya terdiri dari gurun pasir yang kering dan sangat sedikit turun hujan. Perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lain mengikuti tumbuhan stepa atau padang rumput yang tumbuh secara sporadis di tanah Arab di sekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan. [1
Sejarawan muslim membagi penduduk Arab menjadi tiga kategori, yaitu: Pertama, al-‘Arab al-Ba’idah: Arab Kuno. Kedua, ‘Arab al-Arabiyah: Arab Pribumi dan Ketiga, al’Arab al-Musta’ribah Arab pendatang eksistensi Arab Kuno tidak dapat terdeteksi oleh sejarah kecuali beberapa kaum yang dikisahkan dalam al-Quran dan kitab-kitab pendahulunya. Adapun Arab pribumi adalah dua golongan besar, yaitu Qahthaniyun dan ‘Adnaniyun yang berasal dari Yaman dan merupakan keturunan Nabi Isma’il AS yang berdiam di Hijaz, Tahama, Nejad, Palmerah dan sekitarnya.[2]
Kepercayaan merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia sebagai jalan untuk menuju kehidupan yang abadi. Kepercayaan ini diwarisi turun temurun sejak Nabi Ibrahim as dan Ismail as. Al-Qur’an Menyebut agama itu dengan Hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan menghidupkan dan mematikan, Tuhan yang memberi rezeki dan sebagainya.[3]
Agama bangsa Arab pra Islam menurut Watt dalam bukunya Muhammad’s Mecca (1988), melalui kajiannya terhadap al-Qur’an dikombinasikan dengan sumber arkeologis dan literal lain ada 4 sistem kepercayaan religius yang berkembang di Arab pra Islam, yaitu:
1. Fatalisme
Kepercayaan ini menganggap bahwa “waktu” merupakan manifestasi dari Tuhan. Menurut mereka terdapat dua hal yang wujudnya ditakdirkan; Pertama, kematian (‘ajal) dan Kedua, rezeki.
2. Paganisme
Kepercayaan paganisme ini adalah realitas yang niscaya dalam masyarakat Arab. Menurut Watt, di jazirah Arab terdapat sepuluh Tuhan yang disembah. Tiga diantaranya diidentifikasi sebagai Tuhan feminim, yaitu al-Lat, al-Uzzah, dan Manat. Tujuh lainnya berkarakter Tuhan maskulin antara lain Waddyang disembah oleh suku Kalb, Suwa’ disembah suku Yanbu, Yaghutsdisembah oleh suku Madhij, Yauq oleh suku Khiwan dan Nasr oleh suku di Yaman dan Himyar.
3. Kepercayaan Kepada Allah Sebagai Super Tuhan
Konsep Allah dalam masyarakat Arab pra Islam setidaknya mengandung beberapa pengertian:
a. Sebagai pemberi hujan dan kehidupan yang ada di muka bumi
b. Digunakan dalam sumpah yang sakral
c. Sebagai Tuhan Ka’bah
4. 4. Monotheisme
Rippin menjelaskan dalam kaitanyya dengan monotheisme masyarakat Arab pra Islam setidaknya terdapat tiga teori yang dimunculkan. Pertama, Monotheisme sebagai akibat pengaruh dari agama Yahudi. Kedua, Monotheismemerupakan sesuatu yang bersifat alamiah. Monotheisme merupakan merupakanevolusi pemikiran secara umum dari masyarakat, dan Ketiga, monotheisme berkaitan dengan term “Hanif ”, agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.[4]
Mereka tidak memiliki peradilan tempat memperoleh kepastian hukum tentang suatu kasus atau tempat memvonis suatu tindakan pelanggaran. Barulah pihak teraniaya tidak berhak menuntut balas apabila yang berbuat aniaya telah membayar ganti rugi dengan materi sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak (diyat).[5]
Mereka lahir dari sistem yang mempersiapkan mereka menjadi khalifah dunia dan menginspirasi generasi penerus di berbagai lapisan masyarakat, termasuk dunia kepemimpinan dan pendidikan.[6] Kota Madinah dijuluki sebagai kota pusat perjuangan. Maka terbentuklah pemerintahan Islam yang dipraktekkan dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara, yang berkembang di timur dan barat.[7]
Daftar Pustaka
Esha, Muhammad In’am. Percikan Filsafat Sejarah Dan Peradaban Islam. Malang: UIN Maliki Press, 2011.
Ibrahim Hasan, and Hasan. Sejarah Kebudayaan Islam. Cet 9. Jakarta: Jakarta: Kalam Mulia., 1979.
Musyarif. Sejarah Peradaban Islam (Pra Islam Sampai Bani Umayyah). Cet 1. Sulawesi Selatan: CV. Kaaffah Learning Center, 2019.
Thabrani, Abdul Mukti. “Tata Kelola Pemerintah Negara Madinah Pada Masa Nabi Muhammad SAW.” Jurnal Agama Dan Hak Azazi Manusia Vol 4 No 2 (2014).
Yahya, Yuangga Kurnia. “Pengaruh Penyebaran Islam Di Timur Tengah Dan Afrika Utara: Studi Geobudaya Dan Geopolitik.” Al-Tsaqafa 19 (2019).
Zuraidah, and Upik. “Hijrah Ke Madinah Sebagai Strategi Politik Muhammad SAW.” IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1992.
[1] Yuangga Kurnia Yahya, “Pengaruh Penyebaran Islam Di Timur Tengah Dan Afrika Utara: Studi Geobudaya Dan Geopolitik,” Al-Tsaqafa 19 (2019): h. 45.
[2] Yahya, h. 46.
[3] Musyarif, Sejarah Peradaban Islam (Pra Islam Sampai Bani Umayyah), Cet 1 (Sulawesi Selatan: CV. Kaaffah Learning Center, 2019), h. 67.
[4] Muhammad In’am Esha, Percikan Filsafat Sejarah Dan Peradaban Islam (Malang: UIN Maliki Press, 2011), h. 64-68.
[5] Ibrahim Hasan and Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, Cet 9 (Jakarta: Jakarta: Kalam Mulia., 1979), h. 88-89.
[6] Abdul Mukti Thabrani, “Tata Kelola Pemerintah Negara Madinah Pada Masa Nabi Muhammad SAW,” Jurnal Agama Dan Hak Azazi Manusia Vol 4 No 2 (2014).
[7] Zuraidah and Upik, “Hijrah Ke Madinah Sebagai Strategi Politik Muhammad SAW,” IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1992.

Komentar
Posting Komentar